BolaIndo.com



title Judi Online
hanabet
hanabet
poker
poker
poker
poker
poker
agen bola
Bandar Betting Online Terpercaya
betting303
 agen bola judi online, agen bola terpercaya, agen bola piala dunia 2014, judi bola, judi piala dunia, taruhan bola, bandar bola, taruhan online, judi poker
bet
agen bola
agen bola
agen bola
Published On: Fri, Apr 27th, 2012

PSSI Akan Turuti Kemauan Tim Task Force

"Asia Leading Online-Sports and Entertainment"

Ketua Umum (Ketum) PSSI Djohar Arifin Husin akan mengikuti semua keinginan tim Task Force jelang pertemuan kedua. Djohar menilai langkah pihaknya telah sesuai dengan aturan yang ada sejauh ini.

Setelah selesai menjalani pertemuan pertama di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (24/4), tim Task Force berencana kembali mengundang dua kubu PSSI, pimpinan Djohar dan La Nyalla M Mattalitti, kembali membahas permasalahan sepak bola Indonesia.Walau ada pertemuan lanjutan, Djohar mengaku tak akan ada persiapan khusus.

Pertemuan lanjutan dengan beberapa perwakilan AFC seperti Wakil Presiden AFC HRH Pangeran Abdullah lbni Sultan Ahmad Shah,anggota Komite Eksekutif FIFA dan AFC Dato Worawi Makudi, Sekjen AFC Dato Alex Soosay, dan Kepala Asosiasi Anggota dan Hubungan lnternational AFC James Johnson memang belum diketahui. Tapi, apa pun hasilnya, PSSI menyerahkan segala mekanisme yang ada kepada tim bentukan AFC tersebut.

”Pertemuan pertama itu baru sebatas inventarisasi dan kami belum tahu apa hasilnya. Tapi, kami akan tetap mendengar apa-apa saja tawaran dari mereka. Soal persiapan pada pertemuan kedua yang akan direncanakan tim Task Force, saya rasa tidak ada persiapan khusus. Karena, kami yakin sudah sesuai aturan statuta yang ada,”ungkap Djohar.

Kebenaran akan diadakannya pertemuan lanjutan dengan tim Task Force,juga diamini Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI Tri Goestoro. Menurut Tri, rencana itu kemungkinan akan kembali terjadi lantaran dia mendapat sinyal selepas menghadiri pertemuan pertama.

Dalam pertemuan itu, Tri bersama Wakil Ketua Umum (Waketum) PSSI Farid Rahman mewakili PSSI pimpinan Djohar. Tri menegaskan sampai saat ini pihaknya masih menunggu undangan untuk rencana pertemuan lanjutan tersebut.

”Ini baru pertemuan pertama dan mungkin saja akan ada pertemuan berikutnya.Kami belum tahu jadwal pastinya, mungkin pekan depan. Yang pasti,sampai sekarang kami masih menanti informasi lebih lanjut.Jika kabar tersebut sudah ada,kami akan sampaikan kepada teman-teman seberang (PSSI pimpinan La Nyalla),”tutur Tri di Kantor PSSI,Jakarta.

Tri yakin pertemuan dengan tim Task Force akan memberikan solusi terbaik bagi persepakbolaan Tanah Air. Tapi, sayang, pihaknya belum mau memaparkan terlebih dahulu isi dari pertemuan tersebut. Namun, pria yang sempat menjabat Sekjen PSSI era kepemimpinan Agum Gumelar itu berharap masalah yang ada bisa diselesaikan dengan cepat.

”Kami belum bisa tarik kesimpulan. Yang bisa saya sampaikan, AFC sangat berkepentingan agar kami bisa bersatu kembali. Bukan hanya AFC, FIFA juga berharap hal yang sama. Artinya, mereka berharap sepak bola kami bisa kembali bersatu,”papar Tri.

”Mungkin, yang bisa saya sampaikan selepas pertemuan pertama itu adalah belum adanya keputusan, karena baru sebatas tukar menukar pikiran dengan teman-teman Task Force.Tapi, saya optimistis ada titik temu agar sepak bola Indonesia terhindar dari sanksi sebelum 15 Juni nanti,”lanjut mantan manajer Bandung Raya tersebut. (sindo)

Kabarbola.com - Kabar berita terlengkap seputar sepakbola dunia

Mesingol.com - prediksi pertandingan, highlight pertandingan, dan jadwal siaran langsung sepakbola

Follow twitter @bolaindo.com untuk mendapatkan berita terbaru sepakbola Indonesia!

Displaying 37 Comments
Have Your Say
  1. lae togar says:

    uda gila KPSI, PT. Liga mau diaudit mereka diam, kongres bali ketuanya narapidana….dodol

  2. Serah terima jabatan antara pengurus lama ke pengurus baru aja tidak ada, mau diaudit tidak mau, mana KPSI, katanya penyelamat, dasar dodol..seharus penyelamat itu menyelamatkan uang pssi yang dibawa lari oleh nurdin cs, itu baru benar….

  3. reza alamsyah says:

    johar arifin trnyata jga koruptor dia mnaikkan jtah saham klub untuk pssi sbesar 20% sham klub YG SHARUSNYA pssi hnya dpat 1% sja, dsar LPI (LIGA PERAMPOK INDONESIA)……..

  4. preman asli says:

    YG NGOTOT INGIN MENANG SENDIRI DAN INGIN LIGANYA SENDIRI YANG DI AKUI FIFA ITULAHHH DIA KELOMPOK2 DUNGU DAN KONYOLLL, DIA MENGIRA DNG BEGITU KISRUH AKAN SELESAIII KARNA DIA MENGIRA HANYA DIA YANG PUNYA UANG SEIDONESIAAA!…EMANG KELOMPOK LAIN GAK BISA BUAT LIGA ILEGALLL!… JANGANKAN ARIPIN PANIGOROOO SIHAR SITORUS AJA KALAU MAU BUAT LIGA ILEGALLL DIA SANGGUPPPPPP, BAHKAN KALAU MAUUU ARIPIN PANIGOROOO DAN SIHARR SANGGUP BUAT KLUB BARU LIGA ILEGALL 10 XXXX LBH BANYAKKK DRI KLUB2 ISL SI BAKHRI!…INTINYA BRANTAM AJA TERUSSS AGAR INDONESIA CEPAT KENA SANGSIII YG LBH BERATT KRN TELAH MENYITA TENAGA AFC DAN FIFA!…

  5. dulu pssi johar arifin mnolak pmain ISL, nyatanya skrng dia meminta n mngharapkan pmain ISL untk mnjadi bgian timnas lg tetapi pemain ISL mnolak msuk timnas pssi johar arifin, brarti itu nma’a mnjilat ludah sndiri……..

  6. 10 Kekecewaan pada PSSI Era Djohar Arifin
    1. Hasil Kongres PSSI Terkait Jumlah Peserta Liga Primer
    Diingkrinya keputusan PSSI hasil kongres di Bali tanggal 22 januri 2011 pada era Nurdin Halid terkait jumlah peserta Liga Super merupakan salah satu pemicu kekisruhan PSSI jilid II. Pada saat kongres di Bali peserta kongres PSSI menetapkan bahwa peserta Liga Super hanya 18 klub, tetapi pada era Djohar Arifin peserta Liga Primer (Super) membengkak menjadi 24 peserta, dengan sistem kompetisi penuh. Sontak klub-klub yang bermodal kecil dan mandiri tanpa bantuan APBD meradang karena dengan peserta yang membengkak menggunakan kompetisi penuh justru akan melambungkan biaya yang akan dikeluarkan klub untuk tiap musimnya padahal pendapatan mereka sangat terbatas. Sebelumnya era Nurdin Halid pun sama ketika jumlah klub belum membengkak PSSI saat itu juga kurang mencari solusi bagi klub yang kesulitan mencari dana.

    2. Melakukan Perekrutan Peserta Klub Liga Primer yang Tidak Efektif
    Direkrutnya beberapa klub diluar mekanisme kompetisi yang seharusnya, merupakan bukti perekrutan yang dilakukan PSSI tidak efektif untuk meredam kisruh jilid II . Misalnya ketika Persema,Persibo,dan PSM Makassar telah dihukum degradasi ke divisi I karena mengikuti LPI ketika LSI di era Nurdin Halid telah digelar, namun saat ini klub tersebut kembali pada kasta tertinggi Liga Primer tanpa harus mengikuti kompetisi di divisi I/Utama terlebih dahulu.

    3. Menciptakan Kompetisi yang Tidak Efektif dan Efisienya
    Sebagai lanjutan dari poin pertama yang dipicu penggingkaran Statuta PSSI terkait jumlah klub peserta Liga Primer , setidaknya jikalau PSSI era Djohar Arifin menjalankan kompetisi dengan 24 klub, bisa dibayankan berapa lama kompetisi digelar?, berapa banyak modal yang harus digelontorkan?,berapa banyak sponsor /investor yang sanggup mendanai klub?, berapa klub yang harus dikorbankan?. Sepertinya setumpuk persoalan tersebut membuat kompetisi no.1 di Indonesia tidak akan efektif dan efisien.

    Sesungguhnya persoalan nyata yang harus dihadapi PSSI yaitu bagaimana menciptakan kompetisi no. 1 di Indonesia ini menjadi kompetisi yang berkualitas bukan semata kuantitasnya. Dengan menciptakan kompetisi yang efektif dan efisien tentunya akan mengahasilkan kompetisi yang berkualitas dan hanya dari kompetisi yang berkualitas pula akan lahir pemain-pemain nasional yang berkualitas pula. Muaranya dari terciptanya kompetisi yang efekti dan efisien tentunya meningkatkan prestasi tim nasional yang saat ini berada dalam level yang mengkhawatirkan.

    4. Amburadulnya Kompetisi
    Terjadinya dualisme kompetisi dan dualisme klub merupakan bukti amburadulnya kompetisi yang dibuat PSSI era Djohar Arifin. Dalam susunan klub peserta Liga Primer dan Liga Super terlihat ada beberapa klub yang sama walau mereka berada pada satu kasta tertinggi di Liga Indonesia. Misalnya Persija Jakarta, Arema Indonesia, PSMS . Terjadinya dua kubu seakan seperti cara kolonial di negara kita pada masa perjuangan dahulu dengan melakukan politik adu domba untuk menguasai suatu tujuan, namun yang terjadi saat ini PSSI mengadudombakan klub, pengurus klub, maupun supporter.

    Selain nampak adanya dualisme, amburdul pun terlihat dari tidak adanya promosi dan degradasi atau reward and punishment yang dilakukan terhadap klub yang melanggar aturan atau sebaliknya yang membuat prestasi. Misalnya seperti sudah dijelaskan pada poin dua ketika Persema,Persibo dan PSM Makassar telah didegradasi kedivisi I tetapi menjadi peserta Liga Primer kembali tanpa melalui kompetisi divisi I sebagai sanksi yang harus dijalani. Contoh lainya ketika Bontang F.C telah terdegradasi ke divisi utama di Liga Super tetapi menjadi peserta Liga Primer.

    5. Mendzalimi Persipura
    Sebagai bentuk tidak adanya reward and punishment yang diterapkan PSSI era Djohar Arifin, hal ini telah membawa korban dan yang menjadi korbannya ialah Persipura. Seperti kita ketahui bahwa Persipura adalah juara Liga Super musim 2010-2011 dengan demikian ia berhak lolos untuk mengikuti kualifikasi Liga Champions Asia , namun sepertinya PSSI punya rencana lain dengan tidak mendaftarkan Persipura sebagai wakil Indonesia untuk kualifikasi Liga Champions Asia dengan alih-alih Persipura menjadi peserta LSI yang diilegalkan PSSI. Hal ini pun menyulut amarah Official dan fans Persipura, merasa dirugikan akhirnya Persipura melayangkan gugatan pada PSSI melalui Badan Arbitrase Olahraga atau Court of Arbitration for Sports (CAS) dan hasilnya Persipura menang ,konsekuensinya PSSI harus membayar nilai gugatan kepada Persipura sebesar US$ 1.982.000 atau sekitar Rp 10 -11 miliar disamping Persipura berhak menjadi tim kuaifikasi LCA 2011-2012. Walau akhirnya gugatan itu tidak diteruskan oleh Persipura.

    6. Diskriminasi Perekrutan Pemain Timnas Di segala Kelompok Umur
    Diskriminasi terhadap perekrutan pemain timnas merupakan kekecewaan terbesar pecinta timnas pada PSSI era Djohar Arifin. Hal ini diwujudkan dengan tidak dipanggilnya pemain-pemain yang berkualitas tetapi mereka bermain di Liga Super. Kembali atas alih-alih Liga Super Indonesia merupakan liga yang diilegalkan PSSI maka menurutnya pemain yang berlaga di Liga Super haram untuk memperkuat timnas. Kekecewaan dirasakan para punggawa timnas yang telah berpengalaman berlaga di pertandingan internasional seperti Pra Qualifikasi Piala Dunia 2014 maupun perhelatan regional lainya.

    Lebih mencengangkan lagi bahwa diskriminasi ini telah diberlakukan juga di kelompok umur usia dini timnas, padahal mereka adalah generasi penerus kebangkitan timnas dan regenersi pemain. Padahal siapapun, di liga manapun ia bermain selama memang pantas menjadi pemain timnas ia berhak mendapatkan hak yang sama untuk membela Negara. Apakah kesalahan mereka sampai-sampai PSSI era Djohar Arifin sudah melarang hak warga negara untuk membela negara dan mengembangkan talentanya?.

    7. Kekalahan Timnas Paling Memalukan
    Setelah kekalahan memalukan Timnas di Era Nurdin Halid saat melawan Suriah pada 2010, kini pada Rabu 29 Februari 2012 boleh jadi menjadi hari yang kelam setelah tahun 1974 bagi persepakbolan nasional, pada hari itu timnas era Djohar Arifin membuat rekor buruk yang fantastis dan tidak patut. Bayangkan di pertandingan itu telah terjadi sepuluh gol ke gawang timnas, empat kali penalti dan dua kartu merah. Kekecewaan pun tidak saja datang dari para pecinta sepakbola nasional, tetapi juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun turut angkat bicara atas prestasi timnas akhir-akhir ini, bahkan Presiden SBY mengkritik PSSI yang sering ribut-ribut yang tak pernah selesai tapi prestasi yang dikorbankan. Senada dengan Presiden SBY, Menteri Olah Raga dan Pemuda Andy A.Mallaranggeng pun ikut mengkritik PSSI yang telah diskriminasi terhadap perekrutan pemain timnas sehingga menyebabkan kekalahan memalukan 10 – 0.

    Pantas saja timnas mengalami kekalahan yang paling memalukan dalam sejarah persepakbolaan Republik Indonesia karena materi pemain yang diturunkan merupakan pemain U-23 yang baru saja dibentuk beberapa minggu itu pun hanya pemain yang bermain di Liga Primer, dengan level pengalaman pertandingan internasional kurang. Tentu saja dengan materi pemain seperti itu akan mudah ditebak hasilnya, pasti kekalahan memalukan yang akan dituai. Bandingkan bila skuad timnas yang biasa mengisi best eleven tidak akan kebobolan sampai 10 gol.

    Di level regional sama buruknya, baik di era Nurdin Halid maupun PSSI saat ini, liat saja turnamen yang diadakan oleh Sultan Brunei itu. Pada Turnamen tersebut memang timnas U-21 berhasil menjadi runer up turnamen tersebut, tapi sangat disesalkan timnas kalah oleh tim yang sebelumnya menjadi lumbung gol seperti Myanmar dan Brunei di turnamen AFF CUP (Piala Tiger).

    8. Kebohongan Terkait Perekrutan Pemain Timnas
    Terkait diskriminasi pemain PSSI diera Djohar Arifin, rupanya PSSI telah melakukan kebohongan terhadap publik. Alasan adanya larangan dari FIFA terhadap pemain yang bermain diluar Liga Primer dilarang untuk memperkuat timnas negaranya merupakan suatu kebohongan PSSI untuk melakukan pembenaran atas diskriminasi perekrutan pemain timnas, setelah ditelusuri nyatanya larangan itu tidak ada. Kebohongan lainya, PSSI telah melakukan pembohongan dengan mengirim surat pada FIFA yang berisi bahwa 12 klub IPL merupakan anggota 18 klub ISL, padahal jelas – jelas ISL merupakan kompetisi yang diharamkan menurut PSSI di era Djohar Arifin.

    Bukti bahwa pemain nasional negara lain yang bermain di Liga Super masih bisa bermain untuk timnas mereka misalnya Safee Sali striker asal Malaysia yang sekarang bermain untuk Pelita Jaya, kemudian Keith Kayamba Gumbs striker Sriwijaya F.C, begitu pula Zahrahan, playmaker Persipura yang keduanya masih bermain di timnas masing-masing tanpa adanya larangan. Larangan ini selain bentuk diskriminasi, juga bentuk arogansi kepengurusan PSSI era Djohar Arifin yang mengorbankan prestasi.

    9. Pengkhiatan Terhadap Klub/Pengprov Pendukung
    Pembekuan terhadap 14 klub peserta ISL merupakan bentuk pengkhianatan terhadap klub yang selama ini telah mendukung Djohar Arifin untuk menjadi orang nomor satu di PSSI. Keempat belas klub tersebut dianggap telah melanggar Pasal 15 ayat a serta pasal 85 Statuta PSSI.

    Salah satu klub super liga yang menerima sanksi paling berat dari Komisi Disiplin PSSI yaitu Persib Bandung. Klub asal Bandung peraih gelar liga Indonesia pertama kali ini dijatuhi sanksi berupa denda Rp 1 miliar lantaran dinilai membelot dari Liga Prima. Selain itu, Persib dijatuhi hukuman berupa diskualifikasi dari Indonesia Premier League musim 2011/ 2012, degradasi ke divisi utama untuk musim 2012/ 2013. Juga sanksi mengembalikan kompensasi dana yang sudah diterima dari PT Liga Prima Sportindo Indonesia dan larangan melakukan transfer di musim 2011/ 2012.

    Selain pembekuan terhadap klub ternyata PSSI pusat juga melakukan pembekuan terhadap Pengprov PSSI di berbagai Provinsi yang mendukung Kongres Luar Biasa PSSI. Tak tanggung – tanggung PSSI telah membekukan 27 Pengprov PSSI dari 33 Pengprov PSSI diseluruh Indonesia. Ironis karena diantara 27 Pengprov PSSI tentunya merupakan pendukung Djohar Arifin semasa pemilihan Ketua Umum PSSI Periode 2011 – 2015 di Solo.

    10. Gagal Melakukan Rekonsiliasi
    Di era kepemimpinan Djohar Arifin kepengurusan PSSI dirombak total sampai tak terlihat lagi orang-orang yang selama ini menjadi pengurus pada era PSSI Nurdin Halid. Padahal kepemimpinan Nurdin Halid jika dibandingkan dengan kepemimpinan PSSI saat ini sedikit lebih baik memang, walau PSSI di era Nurdin Halid juga sama tidak menghasilkan prestasi besar apapun. Tak sampai disitu, ketika ada exco PSSI yang bersebrangan pendapat pun PSSI tak segan-segan memecatnya walau bukan pendukung Nurdin Halid sekalipun pada PSSI eranya.

    Perseteruan dua kubu kian merungcing disaat kongres tahunan PSSI yang akan diselenggarakan di Palangkaraya Kalimantan Tengah pada 18 Maret 2012, di tanggal yang sama tak ketinggalan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) menggelar KLB di Jakarta. Aroma perseturan pun sampai pada klaim-mengklaim jumlah peserta kongres yang sah. KPSI misalnya mengklaim telah mendapat 2/3 jumlah anggota PSSI untuk mengadakan KLB dan memutuskan ketua umum PSSI baru, sementara PSSI telah memastikan kongres tahunan akan dihadiri 97 anggota PSSI.

    Puncak dari kegagalan rekonsiliasi dalam menyelesaikan konflik interen dan perbedan pandangan terkait kompetisi itu nampak pada terjadinya dualisme liga, dualisme klub dualisme organisasi dan pembekuan terhadap 27 Pengprov PSSI yang mendukung Kongres Luar Biasa. Tak sampai disitu kedua kubu baik PSSI maupun Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia selaku pihak yang bersebrangan dengan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin tidak kunjung menunjukan itikad baik untuk menyelesaikan konflik dan perbedan pandangan diantara mereka. Malah keduanya saling membenarkan kelompok masing-masing tanpa melihat lebih jauh dampak buruk kedepannya. Disini baik PSSI maupun KPSI sudah dirasuki kepentingan non sportivitas, hanya kepentingan politis yang dikedepankan. Bukan isapan jempol jika suatu saat kegagalan PSSI dalam mengatasi konflik dan perbedaan pandangan ini akan membawa kehancuran pada persepakbolaan nasional yang telah lama mengidamkan harumnya prestasi berkelas dunia.

    Perlu diperhatikan tulisan ini bukan untuk mengadili kesalahan orang lain tetapi bentuk kekhawatiran saya dan pencinta sepakbola nasional lainnya terhadap kekisruhan ini yang membawa dampak buruk pada pemain, klub, organisasi sepakbola, supporter dan prestasi persepakbolaan nasional. Mohon maaf dan saran jika tulisan ini meyudutkan pihak lain dapat, ini semua murni pandangan pribadi yang tak ada sangkut pautnya dengan satu kelompok tertentu, sekian terima kasih.

    • JAI says:

      Mengada ada lu… kebanyakan POIN yang lu sampaikan, setelah di rusak oleh KPSI, wajarlah brooo…. PSSI memang harus mulai dari Nol lagi bos… semua document aja dari pengurus lama di bawa kabur semua… harusnya kan ada serah terima dari pengurus lama ke baru… serah terima jabatan, document, wewenang, dll.

      Liga yang di degradasi jaman nurdin, karena ke LPI, harusnya mereka bisa kita sebut pahlawan, krena berani menentang rezim korup… bila perlu semua club pindah ke LPI, pasti kita akan setuju dan dukung waktu itu…

      Banyak keputusan di jaman Nurdin, hanya untuk kepentingan kekuasaan nurdin dan antek2nya.

      “BETER LATE THAN NEVER”

      Nonton juga ulasan Metrotv nih:

      http://metrotvnews.com/read/newsprograms/2012/03/24/11978/121/PSSI-Kembar

      MATA NAJWA – Bola Mati PSSI 1 (11 April 2012)
      http://www.youtube.com/watch?v=F7D7iYKqnho

      Salam kami anak2 bangsa…

    • Bego says:

      Bro lu dah salah pandang ,lu harus lihat di kaskus disana ada topik mengenai kronologi sebenarnya….jangan gelap mata dukung si Mattatittit dah jelas jelas , mempunyai clausal bumi hanguskan PSSI. Ini udah pkerjaan orang gila bro …Nirwan dah gila udah pada orang sakit semua mereka…

      • @bego emang bodoh….tahu ngga kalo konsorsium udah mau bangkrut..?? cara utk menyelamatkan konsorsium adalah dgn menarik pemain bintang dari LSI ke LPI…. tahu ngga klo CEO Konsorsium udah botak mikirin utang..???… jadi kita nonton aja, entar juga konsorsium akan bangkrut..dan biar kamu tahu.. LSI itu ngga bergantung dari BAKRIE..klo kamu bilang BAKRI berarti kamu buta dan tdk melihat logo sponsor yang memenuhi klub ISL…, ngga seperti LPI yang miskin sponsor…..udah pintar ya bego…

  7. bacot says:

    TETAP SEMANGAT!

    PSSI ANCOL VS PSSI SOLO…..SKOR ?

    SEBENARNYA MUDAH BAGI PSSI, BUAT PERJANJIAN KEPADA FIFA BILA YG KALAH TIDAK MAU NURUT PADA FIFA…MAKA SEMUA IJIN DI CABUT!CABUT

    JADI BILA TETAP JALAN YA…MONGGO TAPI ILEGAL GITU AJA.

    DAN FIFA SEPAKAT UTK TIDAK MEMBERI SANKSI…KRN MEMANG SUDAH KESEPAKATAN BAGI YG KALAH…

  8. bacot says:

    TETAP SEMANGAT!

    PSSI ANCOL VS PSSI SOLO…..SKOR ?

    SEBENARNYA MUDAH BAGI PSSI, BUAT PERJANJIAN KEPADA FIFA BILA YG KALAH TIDAK MAU NURUT PADA FIFA…MAKA SEMUA IJIN DI CABUT!

    JADI BILA TETAP JALAN YA…MONGGO TAPI ILEGAL GITU AJA.

    DAN FIFA SEPAKAT UTK TIDAK MEMBERI SANKSI…KRN MEMANG SUDAH KESEPAKATAN BAGI YG KALAH…

  9. TINO HARTONO says:

    Good job kami menunggu hasilnya, e alah sudah banyak yang berspekulasi, aneh…. kapan masalah ini akan selesai. tolong komen melihat dari banyak sisi sehingga tidak memunculkan prediksi yang tidak tepat. isl, ipl sama saja pangkanya adalah ……. masalah membandingkan dengan negara maju kita harus juga lihat dari tingkat, SDM, Ekonomi, dan BUdaya apakah kita sudah sama dengan mereka itu baru adil. jadi kesimpulan akhir jangan mudah membandingkan bila masalahnya tidak tau secara utuh.

  10. Agus Santosa says:

    Obat atau obat yang menambah keracunan untuk persepakbolan nasional Indonesia yang akan diperoleh dari task force FIFA. Masyarakat sepakbola Indonesia sekarang ini ibaratnya sedang menunggu-nunggu apa yang terjadi didalam ruang gawat darurat karena adanya pekelahian PSSI SENAYAN melawan PSSI ANCOL yang berdarah-darah yang saat ini sedang ditangani tim dokter (task force) dari AFC/FIFA dengan batas waktu penrawatan dan pengobatan tanggal 15 Juni 2012. Kita harus sadar bahwa tim dokter itu bisa berhasil baik, kurang baik dan bisa juga gagal karena meskipun tim dokter mendiagnose hanya ada masalah kompetisi yang harus jadi satu yaitu PSSI SENAYAN (IPL)dan PT.LI (ISL). Oleh karenanya yang dipanggil adalah PSSI SENAYAN dan pengurus PT.LI bukan pengurus PSSI ANCOL yang sudah ditolak gugatannya di CAS dan FIFA juga tidak mengakui PSSI ANCOL terlebih dengan keluarnya keputusan CAS dan FIFA pasti berpegang pada posisi hukum yang benar. Apapun ceritanya yang telah terjadi adalah masa lalu kita. Kita mau tidak mau harus mengikuti resolusi yang ditawarkan oleh FIFA sebagai induk organisasi sepakbola tertinggi diplanet bumi ini jika kita masih ingin diakui dan berkecimpung diwilayahnya FIFA kecuali kita mau membentuk AFC dan FIFA tandingan serta berkompetisi diluar wilayah FIFA. Bagaimana jika tidak mau mengikuti resolusi yang diberikan oleh FIFA dan akhirnya juga tidak bisa selesai kisruh kompetisi di Indonesia…? Apakah kita semua rela harus menanggung resikonya berupa kematian PSSI setelah tanggal 15 Juni 2012..!! Kalau kita mengaku warga negara Indonesia sudah seharusnya iklas memberikan pengorbanan untuk menghindari kematian itu. Seorang anak bangsa yang bernama Suratin sebagai pendiri PSSI rela hidup miskin yang sebenarnya dengan gelar Ir jermannya ia bisa hidup jauh lebih baik ketimbang memilih PSSI yang dijalaninya dengan kemiskinan Tapi ia hanya satu tujuannya PSSI untuk persatuan dan kesatuan anak bangsa Republik Indonesia. Ia lebih mencintai Indonesia dari pada keluarga, kelompok, golongan, partai dan bahkan dirinya sendiri. Para pemangku kekuasaan di klub termasuk para sponsor perpecahan, sadarlahlah bahwa uang yang diperoleh dibumi pertiwi dengan cara apapun termasuk hasil korupsi seharusnya digunakan untuk kepentingan persatuan dan kesatuan yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara bukan kepentingan kelompok, partai, golongan, kerluarga apalagi hanya untuk kehormatan pribadi. Semoga para dermawan yang telah membuang-buang uang baik fari hasil yang halal maupun haram digunakan untuk bersama membangun perstaun dan kesatuan sepak bola Indonesia demi kejayaan bangsa Indoneisa dari pada untuk kepentingan mempertahankan kelompok, golongan, partai, kehormatan keluarga dan pribadi, dlsb. Apakah tipis perbedaan antara kebajikan dan kemudhoratan karena subjektifitas masing individu yang membelenggu masing-2 pihak sampai harus dibantu orang luar negeri untuk menentukan apa yang terbaik untuk kita semua…??

    • beto says:

      anda mengakui bahwa salah satu pihak yang dipanggil adalah PT.LI (ISL), apakah anda juga mengakui kalau kebanyakan klub ISL yang merupakan VOTER pada saat KONGRES SOLO telah mencabut MANDATNYA kepada PSSI SENAYAN, dan apakah anda juga mengakui bahwa begitu mandat dicabut, PSSI SENAYAN sudah TIDAK LEGIMITE lagi.

      • Agus Santosa says:

        Fakta yang ada saat ini adalah PSSI SENAYAN yang diakui resmi oleh pemerintah, AFC dan FIFA. Kelak jika terjadi perubahan status bahwa yang resmi yang diakui oleh pemerintah, AFC dan FIFA adalah PSSI-ANCOL, maka kita harus akui yang resmi adalah PSSI-ANCOL. Untuk itu selamat berjuang untuk melegalisir PSSI-ANCOL. Semoga berhasil..!!

        • Bhledegh says:

          @Agus Santosa…stuju banget bro..bgitulah seharusnya orang yg taat azas dlm berorganisasi..
          Bro Beto selamat berjuang…tp kl gagal berlapang dadalah… Tujuan akhir Yg penting jgn smp di banned FIFA..

          • @Bhledegh goblog, klo sponsor aja ngga percaya sama IPL , masak kami di paksa percaya, dan klo sebagai pemilik suara jika sudah mencabut mandat (mosi tidak percaya) lebih dari 2/3 maka secara de facto maupun de jure kepengurusan DJOHAR anjritt..sudah seharusnya demisioner.. kamu tahu aturan ngga..??? .. jangan kmu memprovokasi dengan segala macam alsan… sehingga apapun yg di buat pengurus DJOHAR anjritt sudah ngga memiliki kekuatan hukum, cuman memang pemerinta kita ini guoblok ngga tahu arah angin…
            kamu pasti tahu bahwa konsorsium lagi cari utang utk dana talangan bagi perjalanan sisa kompetisi..??? tahu ngga konsorsium udah megap-megap..??..tahu ngga utang konsorsium dan janji pelunasannya..???..tahu ngga klo Konsorsium ngga dapat sponsor..???
            ko saya ibaratkan, ngga diapa-apain juga pasti LPI bubar…???
            klo LPI bubar..pasti kami senang..hahahahahahaha..huaaahahahhuaahaaa….asyikk LPI bubar…asyiikk..SI IPIN BANGKRUT…

    • masalah yang membuat terjadi dualisme itu terjadi karena kesalahan pssi sendiri dengan merubah format kompetisi dan menaikkan tim kloningan.

  11. Cobalah lihat klub-klub top Eropa, misal Liga Primer Inggris. Kenapa ya seseorang tidak boleh memiliki/memegang saham mayoritas lebih dari satu klub di liga tsb? Seperti Roman Abramovic, sang juragan minyak rusia yang memiliki Chelsea, tentu saja ia mampu membeli dan memiliki dua, tiga bahkan lima klub sekaligus tapi kenapa ia tidak melakukannya? Atau Seikh Mansour pemilik Man City pun pasti mampu memiliki klub bahkan sampai sepuluh sekalipun. Tetapi kenapa ia tidak melakukannya?

    Tentu saja bukan karena mereka tidak mau namun regulasi yang ada tidak memungkinkan. Sangat diharamkan seseorang memiliki lebih dari satu klub dalam satu liga seperti di Liga Primer Inggris juga di liga lainnya macam La Liga, Serie-A bahkan seluruh liga dunia yang menganut paham profesional pun demikian adanya. Ini dilakukan untuk menjaga asas yang paling baku, fair play. Sangat berbahaya bila dua klub dalam satu liga dimiliki satu orang/lembaga. Persengkongkolan, pengaturan hasil pertandingan sangat terbuka untuk terjadi. Di sinilah terlihat bahwa penetrasi profesionalitas liga negara maju bukan lagi sekedar mandiri.

    Bagaimana liga di Indonesia khususnya IPL dengan adanya fakta satu lembaga atau konsorsium memegang kendali banyak klub?

    Okelah, pasti ada alasan di sini liga dimulai dari nol. Semua klub (tepatnya sebagian besar) dirangkul dan dibina secara manajerial plus tunjangan dana agar dalam beberapa tahun kedepan bisa mandiri. Bila keadaan normal, dalam arti di kasta tertinggi tak ada istilah ISL dan IPL kemungkinan besar terus melaju dan mencapai progress yang meningkat. Namun dualisme kompetisi telah terjadi dan mencapai babak krusial dengan wacana rekonsiliasi.

    Bagaimana halnya dengan rekonsiliasi dengan salah satu draftnya menggabungkan klub2 ISL dan IPL?

    Sangat riskan bila klub-klub ISL berkompetisi bersama klub-klub IPL dengan adanya fakta klub-klub IPL tsb dikendalikan oleh satu konsorsium (kecuali Persebaya 1927, Arema ancorra, PSM) ditambah lagi konsorsium tersebut begitu erat kaitannya dengan penguasa PSSI dibawah kendali Djohar Arifin.

    Masuk akal kah bila ada kekhawatiran dari klub-klub ISL akan diperlakukan tak adil seperti anak tiri? Lumrahkah mereka merasakannya? Sepakbola memang hanya sebuah permainan namun disitu pula tempat diperjuangkannya sebuah kehormatan, prestise, kepuasan batin serta sumbu putaran uang yang tidak sedikit.

    Mungkin akan sangat banyak kekhawatiran lain yang lebih mendetail terkait jalannya kompetisi namun tak perlu lah dikemukan, anda bisa menangkapnya.

    Sungguh ironis bila nanti konsorsium yang digadang-gadang sebagai motor penggerak tema profesionalitas liga dan klub menjadi ganjalan rekonsiliasi.

  12. Sungguh miris melihat IPL yang ramai dan hingar bingar hanya karena teriakan para bonek yang dikejar-kejar satpol pp.

  13. 10 Kekecewaan pada PSSI Era Djohar Arifin
    1. Hasil Kongres PSSI Terkait Jumlah Peserta Liga Primer
    Diingkrinya keputusan PSSI hasil kongres di Bali tanggal 22 januri 2011 pada era Nurdin Halid terkait jumlah peserta Liga Super merupakan salah satu pemicu kekisruhan PSSI jilid II. Pada saat kongres di Bali peserta kongres PSSI menetapkan bahwa peserta Liga Super hanya 18 klub, tetapi pada era Djohar Arifin peserta Liga Primer (Super) membengkak menjadi 24 peserta, dengan sistem kompetisi penuh. Sontak klub-klub yang bermodal kecil dan mandiri tanpa bantuan APBD meradang karena dengan peserta yang membengkak menggunakan kompetisi penuh justru akan melambungkan biaya yang akan dikeluarkan klub untuk tiap musimnya padahal pendapatan mereka sangat terbatas. Sebelumnya era Nurdin Halid pun sama ketika jumlah klub belum membengkak PSSI saat itu juga kurang mencari solusi bagi klub yang kesulitan mencari dana.

    2. Melakukan Perekrutan Peserta Klub Liga Primer yang Tidak Efektif
    Direkrutnya beberapa klub diluar mekanisme kompetisi yang seharusnya, merupakan bukti perekrutan yang dilakukan PSSI tidak efektif untuk meredam kisruh jilid II . Misalnya ketika Persema,Persibo,dan PSM Makassar telah dihukum degradasi ke divisi I karena mengikuti LPI ketika LSI di era Nurdin Halid telah digelar, namun saat ini klub tersebut kembali pada kasta tertinggi Liga Primer tanpa harus mengikuti kompetisi di divisi I/Utama terlebih dahulu.

    3. Menciptakan Kompetisi yang Tidak Efektif dan Efisienya
    Sebagai lanjutan dari poin pertama yang dipicu penggingkaran Statuta PSSI terkait jumlah klub peserta Liga Primer , setidaknya jikalau PSSI era Djohar Arifin menjalankan kompetisi dengan 24 klub, bisa dibayankan berapa lama kompetisi digelar?, berapa banyak modal yang harus digelontorkan?,berapa banyak sponsor /investor yang sanggup mendanai klub?, berapa klub yang harus dikorbankan?. Sepertinya setumpuk persoalan tersebut membuat kompetisi no.1 di Indonesia tidak akan efektif dan efisien.

    Sesungguhnya persoalan nyata yang harus dihadapi PSSI yaitu bagaimana menciptakan kompetisi no. 1 di Indonesia ini menjadi kompetisi yang berkualitas bukan semata kuantitasnya. Dengan menciptakan kompetisi yang efektif dan efisien tentunya akan mengahasilkan kompetisi yang berkualitas dan hanya dari kompetisi yang berkualitas pula akan lahir pemain-pemain nasional yang berkualitas pula. Muaranya dari terciptanya kompetisi yang efekti dan efisien tentunya meningkatkan prestasi tim nasional yang saat ini berada dalam level yang mengkhawatirkan.

    4. Amburadulnya Kompetisi
    Terjadinya dualisme kompetisi dan dualisme klub merupakan bukti amburadulnya kompetisi yang dibuat PSSI era Djohar Arifin. Dalam susunan klub peserta Liga Primer dan Liga Super terlihat ada beberapa klub yang sama walau mereka berada pada satu kasta tertinggi di Liga Indonesia. Misalnya Persija Jakarta, Arema Indonesia, PSMS . Terjadinya dua kubu seakan seperti cara kolonial di negara kita pada masa perjuangan dahulu dengan melakukan politik adu domba untuk menguasai suatu tujuan, namun yang terjadi saat ini PSSI mengadudombakan klub, pengurus klub, maupun supporter.

    Selain nampak adanya dualisme, amburdul pun terlihat dari tidak adanya promosi dan degradasi atau reward and punishment yang dilakukan terhadap klub yang melanggar aturan atau sebaliknya yang membuat prestasi. Misalnya seperti sudah dijelaskan pada poin dua ketika Persema,Persibo dan PSM Makassar telah didegradasi kedivisi I tetapi menjadi peserta Liga Primer kembali tanpa melalui kompetisi divisi I sebagai sanksi yang harus dijalani. Contoh lainya ketika Bontang F.C telah terdegradasi ke divisi utama di Liga Super tetapi menjadi peserta Liga Primer.

    5. Mendzalimi Persipura
    Sebagai bentuk tidak adanya reward and punishment yang diterapkan PSSI era Djohar Arifin, hal ini telah membawa korban dan yang menjadi korbannya ialah Persipura. Seperti kita ketahui bahwa Persipura adalah juara Liga Super musim 2010-2011 dengan demikian ia berhak lolos untuk mengikuti kualifikasi Liga Champions Asia , namun sepertinya PSSI punya rencana lain dengan tidak mendaftarkan Persipura sebagai wakil Indonesia untuk kualifikasi Liga Champions Asia dengan alih-alih Persipura menjadi peserta LSI yang diilegalkan PSSI. Hal ini pun menyulut amarah Official dan fans Persipura, merasa dirugikan akhirnya Persipura melayangkan gugatan pada PSSI melalui Badan Arbitrase Olahraga atau Court of Arbitration for Sports (CAS) dan hasilnya Persipura menang ,konsekuensinya PSSI harus membayar nilai gugatan kepada Persipura sebesar US$ 1.982.000 atau sekitar Rp 10 -11 miliar disamping Persipura berhak menjadi tim kuaifikasi LCA 2011-2012. Walau akhirnya gugatan itu tidak diteruskan oleh Persipura.

    6. Diskriminasi Perekrutan Pemain Timnas Di segala Kelompok Umur
    Diskriminasi terhadap perekrutan pemain timnas merupakan kekecewaan terbesar pecinta timnas pada PSSI era Djohar Arifin. Hal ini diwujudkan dengan tidak dipanggilnya pemain-pemain yang berkualitas tetapi mereka bermain di Liga Super. Kembali atas alih-alih Liga Super Indonesia merupakan liga yang diilegalkan PSSI maka menurutnya pemain yang berlaga di Liga Super haram untuk memperkuat timnas. Kekecewaan dirasakan para punggawa timnas yang telah berpengalaman berlaga di pertandingan internasional seperti Pra Qualifikasi Piala Dunia 2014 maupun perhelatan regional lainya.

    Lebih mencengangkan lagi bahwa diskriminasi ini telah diberlakukan juga di kelompok umur usia dini timnas, padahal mereka adalah generasi penerus kebangkitan timnas dan regenersi pemain. Padahal siapapun, di liga manapun ia bermain selama memang pantas menjadi pemain timnas ia berhak mendapatkan hak yang sama untuk membela Negara. Apakah kesalahan mereka sampai-sampai PSSI era Djohar Arifin sudah melarang hak warga negara untuk membela negara dan mengembangkan talentanya?.

    7. Kekalahan Timnas Paling Memalukan
    Setelah kekalahan memalukan Timnas di Era Nurdin Halid saat melawan Suriah pada 2010, kini pada Rabu 29 Februari 2012 boleh jadi menjadi hari yang kelam setelah tahun 1974 bagi persepakbolan nasional, pada hari itu timnas era Djohar Arifin membuat rekor buruk yang fantastis dan tidak patut. Bayangkan di pertandingan itu telah terjadi sepuluh gol ke gawang timnas, empat kali penalti dan dua kartu merah. Kekecewaan pun tidak saja datang dari para pecinta sepakbola nasional, tetapi juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun turut angkat bicara atas prestasi timnas akhir-akhir ini, bahkan Presiden SBY mengkritik PSSI yang sering ribut-ribut yang tak pernah selesai tapi prestasi yang dikorbankan. Senada dengan Presiden SBY, Menteri Olah Raga dan Pemuda Andy A.Mallaranggeng pun ikut mengkritik PSSI yang telah diskriminasi terhadap perekrutan pemain timnas sehingga menyebabkan kekalahan memalukan 10 – 0.

    Pantas saja timnas mengalami kekalahan yang paling memalukan dalam sejarah persepakbolaan Republik Indonesia karena materi pemain yang diturunkan merupakan pemain U-23 yang baru saja dibentuk beberapa minggu itu pun hanya pemain yang bermain di Liga Primer, dengan level pengalaman pertandingan internasional kurang. Tentu saja dengan materi pemain seperti itu akan mudah ditebak hasilnya, pasti kekalahan memalukan yang akan dituai. Bandingkan bila skuad timnas yang biasa mengisi best eleven tidak akan kebobolan sampai 10 gol.

    Di level regional sama buruknya, baik di era Nurdin Halid maupun PSSI saat ini, liat saja turnamen yang diadakan oleh Sultan Brunei itu. Pada Turnamen tersebut memang timnas U-21 berhasil menjadi runer up turnamen tersebut, tapi sangat disesalkan timnas kalah oleh tim yang sebelumnya menjadi lumbung gol seperti Myanmar dan Brunei di turnamen AFF CUP (Piala Tiger).

    8. Kebohongan Terkait Perekrutan Pemain Timnas
    Terkait diskriminasi pemain PSSI diera Djohar Arifin, rupanya PSSI telah melakukan kebohongan terhadap publik. Alasan adanya larangan dari FIFA terhadap pemain yang bermain diluar Liga Primer dilarang untuk memperkuat timnas negaranya merupakan suatu kebohongan PSSI untuk melakukan pembenaran atas diskriminasi perekrutan pemain timnas, setelah ditelusuri nyatanya larangan itu tidak ada. Kebohongan lainya, PSSI telah melakukan pembohongan dengan mengirim surat pada FIFA yang berisi bahwa 12 klub IPL merupakan anggota 18 klub ISL, padahal jelas – jelas ISL merupakan kompetisi yang diharamkan menurut PSSI di era Djohar Arifin.

    Bukti bahwa pemain nasional negara lain yang bermain di Liga Super masih bisa bermain untuk timnas mereka misalnya Safee Sali striker asal Malaysia yang sekarang bermain untuk Pelita Jaya, kemudian Keith Kayamba Gumbs striker Sriwijaya F.C, begitu pula Zahrahan, playmaker Persipura yang keduanya masih bermain di timnas masing-masing tanpa adanya larangan. Larangan ini selain bentuk diskriminasi, juga bentuk arogansi kepengurusan PSSI era Djohar Arifin yang mengorbankan prestasi.

    9. Pengkhiatan Terhadap Klub/Pengprov Pendukung
    Pembekuan terhadap 14 klub peserta ISL merupakan bentuk pengkhianatan terhadap klub yang selama ini telah mendukung Djohar Arifin untuk menjadi orang nomor satu di PSSI. Keempat belas klub tersebut dianggap telah melanggar Pasal 15 ayat a serta pasal 85 Statuta PSSI.

    Salah satu klub super liga yang menerima sanksi paling berat dari Komisi Disiplin PSSI yaitu Persib Bandung. Klub asal Bandung peraih gelar liga Indonesia pertama kali ini dijatuhi sanksi berupa denda Rp 1 miliar lantaran dinilai membelot dari Liga Prima. Selain itu, Persib dijatuhi hukuman berupa diskualifikasi dari Indonesia Premier League musim 2011/ 2012, degradasi ke divisi utama untuk musim 2012/ 2013. Juga sanksi mengembalikan kompensasi dana yang sudah diterima dari PT Liga Prima Sportindo Indonesia dan larangan melakukan transfer di musim 2011/ 2012.

    Selain pembekuan terhadap klub ternyata PSSI pusat juga melakukan pembekuan terhadap Pengprov PSSI di berbagai Provinsi yang mendukung Kongres Luar Biasa PSSI. Tak tanggung – tanggung PSSI telah membekukan 27 Pengprov PSSI dari 33 Pengprov PSSI diseluruh Indonesia. Ironis karena diantara 27 Pengprov PSSI tentunya merupakan pendukung Djohar Arifin semasa pemilihan Ketua Umum PSSI Periode 2011 – 2015 di Solo.

    10. Gagal Melakukan Rekonsiliasi
    Di era kepemimpinan Djohar Arifin kepengurusan PSSI dirombak total sampai tak terlihat lagi orang-orang yang selama ini menjadi pengurus pada era PSSI Nurdin Halid. Padahal kepemimpinan Nurdin Halid jika dibandingkan dengan kepemimpinan PSSI saat ini sedikit lebih baik memang, walau PSSI di era Nurdin Halid juga sama tidak menghasilkan prestasi besar apapun. Tak sampai disitu, ketika ada exco PSSI yang bersebrangan pendapat pun PSSI tak segan-segan memecatnya walau bukan pendukung Nurdin Halid sekalipun pada PSSI eranya.

    Perseteruan dua kubu kian merungcing disaat kongres tahunan PSSI yang akan diselenggarakan di Palangkaraya Kalimantan Tengah pada 18 Maret 2012, di tanggal yang sama tak ketinggalan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) menggelar KLB di Jakarta. Aroma perseturan pun sampai pada klaim-mengklaim jumlah peserta kongres yang sah. KPSI misalnya mengklaim telah mendapat 2/3 jumlah anggota PSSI untuk mengadakan KLB dan memutuskan ketua umum PSSI baru, sementara PSSI telah memastikan kongres tahunan akan dihadiri 97 anggota PSSI.

    Puncak dari kegagalan rekonsiliasi dalam menyelesaikan konflik interen dan perbedan pandangan terkait kompetisi itu nampak pada terjadinya dualisme liga, dualisme klub dualisme organisasi dan pembekuan terhadap 27 Pengprov PSSI yang mendukung Kongres Luar Biasa. Tak sampai disitu kedua kubu baik PSSI maupun Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia selaku pihak yang bersebrangan dengan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin tidak kunjung menunjukan itikad baik untuk menyelesaikan konflik dan perbedan pandangan diantara mereka. Malah keduanya saling membenarkan kelompok masing-masing tanpa melihat lebih jauh dampak buruk kedepannya. Disini baik PSSI maupun KPSI sudah dirasuki kepentingan non sportivitas, hanya kepentingan politis yang dikedepankan. Bukan isapan jempol jika suatu saat kegagalan PSSI dalam mengatasi konflik dan perbedaan pandangan ini akan membawa kehancuran pada persepakbolaan nasional yang telah lama mengidamkan harumnya prestasi berkelas dunia.

    Perlu diperhatikan tulisan ini bukan untuk mengadili kesalahan orang lain tetapi bentuk kekhawatiran saya dan pencinta sepakbola nasional lainnya terhadap kekisruhan ini yang membawa dampak buruk pada pemain, klub, organisasi sepakbola, supporter dan prestasi persepakbolaan nasional. Mohon maaf dan saran jika tulisan ini meyudutkan pihak lain dapat, ini semua murni pandangan pribadi yang tak ada sangkut pautnya dengan satu kelompok tertentu, sekian terima kasih.

      • Bhledegh says:

        Udah jangan berkoar-koar…kl emang bener bgitu suruh aja La Nyalah bawa ke CAS.. ? Spt dl AP dan GT bawa ke CAS..beres kan..? Llebih elegan.

        Kputusan CAS bersifat mengikat. Jd pasti akan dipatuhi.

        Knp LaNyalak Cs ga berani bw ke CAS…?
        Krn mrk sdh yakin-seyakin-yakinnya dr segala aspek mrk akan kalah..
        Knp mrk yakin akan kalah…?
        Krn Lanyalak Cs sebenarnya sadar bhw mrk pd posisi yg lemah
        Knp berada pd posisi yg lemah…?
        Krn mreka tahu mrk SALAH…

      • jai says:

        Dengan terbentuknya PSSI versi KPSI, konflik di sepak bola nasional benar-benar klimaks sekaligus kian paradoksal. Ketika harapan publik akan hadirnya prestasi tak juga terealisasi, mereka yang mengaku peduli pada sepak bola Indonesia justru kian gigih bertikai.

        Fakta itu memprihatinkan, bahkan menjengkelkan. Kita prihatin karena pengelola sepak bola yang semestinya menjadi teladan sportivitas justru paling garang menodainya. Kita juga jengkel sebab kepentingan pribadi dan kelompok mereka jadikan raja.

        Tabiat itu jelas dipamerkan KPSI, yang sebagian petingginya merupakan pengurus PSSI di bawah rezim Nurdin Halid. Dendam dan nafsu pembangkangan menyatu untuk mendongkel kepengurusan Djohar Arifin.

        Solusi yang ditawarkan PSSI pun mereka tampik mentah-mentah. Padahal, jika mau jujur, tawaran PSSI cukup cantik untuk mengakhiri konflik. Salah satunya yakni penggabungan Indonesian Premier League (IPL) milik PSSI dan Indonesia Super League (ISL) yang berinduk ke KPSI. Dualisme kompetisi itulah yang membuat timnas terpuruk karena PSSI tak leluasa memilih pemain.

        Bahwa PSSI pernah membuat kesalahan dengan memasukkan beberapa klub terhukum ke IPL, itu sulit dibantah. Bahwa PSSI terlambat mengajukan solusi rekonsiliasi, itu juga tak bisa disanggah. Namun, ibarat pepatah better late than never, akan lebih bermartabat jika kelompok penentang menyambut niat baik tersebut.

        Akan tetapi, KPSI tetap ngotot membentuk PSSI tandingan kendati Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menolak gugatan mereka agar CAS membatalkan keputusan PSSI yang menolak permintaan KLB. Begitulah, KPSI yang menggugat, KPSI pula yang ogah menerima keputusan.

        Dengan adanya PSSI kembar, Indonesia terancam pelarangan beraktivitas oleh FIFA dalam sidang 26 Maret nanti. Kita berharap sanksi FIFA tak diketuk palu karena dengan sanksi itu persepakbolan di Tanah Air yang sudah remuk betul-betul akan hancur.

        Namun, hukuman FIFA juga mesti siap ditanggung sebab para pengelola sepak bola negeri ini tak pernah punya kemauan memperbaiki diri. Publik sudah paham siapa sebenarnya bersemangat membangun, siapa pula yang bernafsu merusak sepak bola nasional.

        dikutip dari Editorial Metro TV tanggal 24 Maret 2012

  14. Konde Bulet says:

    Wartawan : Pak Djohar kenapa anda dan para pengurus hobby mengkloning ?

    Djohar : yaa.. karena hobby saja dan kebetulan saya, Bob Hippy dan juga Sihar adalah hasil Kloningan.

    Wartawan : Ah… yang bener pak ?

    Djohar : Benarr!! kok anda tidak percaya sih sama saya ?!

    Wartawan : Percaya sih percaya pak, tap kok bisa banyak banget pengurus kloningan?

    Djohar : Lho saya ini kan hasil dari Mbahnya Kloning !!

    Wartawan : Siapa pak Mbahnya Kloning ?!!

    Djohar : ARIFIN PANIGORO lah!!!!!!!

    Wartawan : OOOOO pANTESSSS!!!

  15. hahaha says:

    hayoooo brantam lgiii biar bola indooo majuuuu,,,, ni ambil batuuuuuuu…. ISL IPL

  16. best_ISL says:

    klw PSSI KPSI yg diakuin u udh siap jhohar..

  17. lol says:

    sudah dana macet, dah mau pada bubar, baru deh mau bersatu…. bisa bersatu asal ente n kroni2 ente mundur mau gak??? kalo mau lanjut pake anggota yang mana lagi yang mau di kloning

  18. Semar Mendem says:

    Capek..capek..capek… Gontok-gontokan terus..!!!
    Capek..capek..capek… Caci maki terus….
    udaahhh… bersatu.. cari Solusi
    Win-win Solution….agar tdk ada yang tersaiki…!!!

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komunitas Poker Indonesia Terbesar dan Terpercaya properti indonesia
<
[X] close
4poker